Skip navigation

Apa itu sistem informasi akademik?

Sistem informasi akademik adalah suatu sistem yang dibangun untuk mengelola data-data akademik sehingga memberikan kemudahan kepada pengguna dalam kegiatan administrasi akademik kampus secara online.

Apa saja yang bisa didapat dari dan dilakukan dengan sistem informasi akademik?

Beberapa hal yang umumnya bisa didapat dari sistem informasi akademik antara lain adalah informasi tentang proses Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB), pembuatan kurikulum, pembuatan jadwal kuliah, pengisian Kartu Rencana Studi (KRS), pengisian nilai, pengelolaan data dosen & mahasiswa.

Apa manfaat dari sistem informasi akademik?

Sistem informasi akademik memberikan beberapa manfaat bagi penggunanya antara lain:

–          Integrasi data

Dengan pengelolaan data secara integrasi sehingga data akan selalu up-to-date dan selalu siap digunakan, serta mengurangi resiko duplikasi data.

–          Sebagai pusat informasi

Dengan adanya respon email otomatis, PMB online, penjadwalan kuliah, KRS online, dan penilaian yang real time online maka semua berita atau pengumuman dapat diakses sebagai referensi.

–          Alat rekam kegiatan kampus

Para pengguna dapat selalu memantau perkembangan setiap kegiatan di dalam kampus tanpa perlu hadir secara fisik sehingga setiap proses dapat dilakukan secara lebih efektif dan efisien.

–          Media komunikasi pengguna

Dengan dilengkapi beberapa fitur seperti email terpadu, chatting, forum dan lain-lain maka sistem ini juga bisa dijadikan sebagai media komunikasi antar para penggunanya.

Siapa saja yang bisa mengakses sistem informasi akademik?

Sistem informasi akademik dapat diakses dan dimanfaatkan oleh umum dan civitas akademika, mulai dari mahasiswa, dosen, staf BAK, staf keuangan, hingga pimpinan atau manajemen.

Apa sih logistik?

Sebagian orang mungkin mengidentikkan istilah logistik dengan pengadaan beras yang dilakukan Badan Urusan Logistik (Bulog). Atau mungkin dengan penyediaan peralatan dan perlengkapan dalam penyelenggaraan suatu kegiatan. Tapi apa sih sebetulnya logistik itu?

Istilah logistik pertama kali digunakan untuk menjelaskan aktivitas yang berhubungan dengan pemeliharaan sumber daya tempur di medan perang. Namun, seiring dengan waktu istilah tersebut kemudian secara umum digunakan untuk kegiatan bisnis dan pelayanan. Istilah logistik selanjutnya berhubungan secara umum dengan perancanaan dan pengendalian aliran material dan informasi yang berkaitan dengannya di dalam suatu organisasi, baik di sektor publik maupun swasta.

Aktifitas logistik dapat ditemukan dalam pengadaan komponen-komponen di industri manufaktur, penyediaan produk yang cukup di rak-rak jual gerai-gerai retail, hingga persiapan darah dalam jumlah dan jenis yang tepat di rumah sakit.

Apa tujuan dari logistik?

Domain dari aktifitas logistik adalah menyediakan kepada sistem produk  yang  tepat, di lokasi yang tepat dan pada waktu yang tepat (right product, in the right place, at the right time) dengan optimasi ukuran performansi yang diberikan (seperti total biaya operasional minimum) dan pemenuhan batasan yang ada (seperti keterbatasan dana).

Apa itu sistem logistik?

Sistem logistik tersusun atas serangkaian fasilitas yang terhubung dengan jasa pelayanan transportasi. Fasilitas yang dimaksud adalah tempat dimana suatu material diproses, seperti dibuat, disimpan, disortir, dijual atau dikonsumsi. Sistem logistik mencakup fasilitas manufaktur dan perakitan, pergudangan, pendistribusian, titik/poin pengalihan angkutan, terminal transportasi, gerai retail, pusat penyortiran dokumen, pusat pengolahan limbah, tempat pembuangan dan lain-lain.

Bagaimana sistem logistik bekerja?

Ada tiga aktivitas utama dalam sistem logistik, yaitu: pemrosesan pesanan (order processing), manajemen persediaan (inventory management), dan pengiriman barang (freight transportation).

Pada aktifitas order processing yang bergerak adalah informasi. Prosesnya bisa dimulai dari pengisian formulir pemesanan oleh customer, yang selanjutnya dikirim dan diperiksa. Kemudian dilakukan verifikasi ketersediaan barang dan status kredit pemesan yang dilanjutkan dengan perintah pengambilan barang dari tempat penyimpanan atau perintah pembuatan di fasilitas manufaktur. Selanjutnya dilakukan pengemasan dan pengiriman barang yang disertai dengan dokumen pengiriman.

Inventory management adalah faktor utama dari perencanaan dan operasi sistem logistik. Inventory dalam hal ini dapat berupa komponen atau material work-in-process yang menunggu untuk dibuat atau dirakit, barang jadi yang disediakan untuk dijual, atau barang jadi yang disimpan untuk kebutuhan di masa depan. Tujuan dari aktifitas ini adalah menentukan tingkat persediaan untuk meminimalisasi biaya dengan tetap memenuhi kebutuhan konsumen.

Pada aktifitas freight transportation yang bergerak adalah barang dalam beragam bentuk mulai dari bahan mentah, work–in-process, hingga barang jadi dari satu titik ke titik lain di rantai pasok (supply chain).

Kenapa TI?

Yup, kenapa TI? Waktu saya memutuskan buat back to school sebetulnya ketertarikan saya lebih ke petroleum, for one simple reason, karna saya terlanjur jatuh ke ‘kubangan minyak’. Tapi sayangnya, sebagai lulusan Politeknik yang bermodalkan ijazah D-3 sangat sulit mengikuti program ekstensi di jurusan perminyakan. Next question, mungkin, kenapa bukan jurusan teknik yang lain? Pertama, background saya adalah aeronautical. Jadi major yang paling dekat adalah mechanical. Tapi, saya berpikir teknik mesin dengan resiko beban praktikum yang berat bakal sangat menyulitkan saya yang bekerja dengan rotasi 35/35. So, TI adalah pilihan yang paling ‘mungkin’ buat saya.

Apa sih TI? Dalam benak saya saat itu, TI adalah jurusan yang paling all-around. Saya mengenal TI dengan panggilan ‘teknik banci’. Orang TI tau sedikit soal mesin, tau juga juga soal elektrikal, material, IT dan bidang rekayasa lainnya. Tidak mendalam, tapi tau. Saya mengenal TI sebagai jurusan yang lebih managerial. Dengan berbagai gambaran tersebut saya berasumsi bahwa TI adalah jurusan engineering dengan beban praktikum yang paling affordable buat saya.

Lantas apa sih TI setelah saya masuk ke dalamnya? Buat saya, TI adalah jurusan yang cocok buat orang yang ‘iseng’, ‘printilanoriented’ dan ‘suka ngatur’. Kok gitu? I’ll tell you why.

Dulu banget, sekitar tahun 1898 ada orang yang ‘iseng’ merhatiin gimana material seperti bijih besi dipindahin pake sekop, Yup, sekop. Jadi, ada beberapa jenis material yang berat jenisnya beda dipindahin pake sekop yang ukurannya sama. Trus ada si orang iseng itu ngasih usulan buat ngebedain ukuran sekop buat material yang berat jenisnya beda, tapi berat material yang dipindahin tetap sama. Hasilnya, jumlah pekerja yang dibutuhin bisa berkurang dari 500 jadi cuma 140 aja. Amazing, kan? Siapa sih orang yang ‘iseng’ itu? Dia lah Frederick Winslow Taylor, yang sekarang dikenal sebagai mbah-nya TI.

Keisengan mbah Taylor tadi rasanya cukup menggambarkan wujud asli TI. Jadi, jangan bayangkan seorang Industrial Engineer (IE) menciptakan sebuah mesin seperti halnya mechanical engineer. Jangan juga membayangkan seorang IE bikin gedung macam orang teknik sipil. Yang di-create oleh IE adalah sistem. Jadi, saat engineer lain typically make things seorang IE lebih fokus pada how to make or do things better. Dan karna alasan inilah makanya saya bilang orang TI itu ‘printilanoriented’ dan hobinya ‘suka ngatur’.

Dengan karakteristik-karakteristik seperti itulah IE bisa ditemukan di berbagai industri, mulai dari manufaktur sampai penerbangan, dari perusahaan distribusi sampai lembaga keuangan, dari penyedia layanan kesehatan sampai perusahaan konsultan, dari industri makanan sampai persenjataan. Karena setiap orang punya keinginan untuk melakukan sesuatu dengan lebih baik. Sesuai dengan motto TI, ‘There is always a better way’.

 

‘Kalo ga kenal jangan mau dideketin ya!’

‘Kenapa, bunda?’

‘Ntar kamu diculik’

‘Oh, gitu ya bunda’

Beberapa saat kemudian anak itu ditemukan hangus terbakar. Dikabarkan dia malah berlari ketakutan ke arah sumber api ketika seorang anak muda berusaha menyelamatkannya saat kebakaran hebat terjadi.

Pernah denger tawuran antar sekolah ga? Pernah tau ga latar belakang masalahnya apa? Biasanya masalah kecil, dari mulai liat-liatan di jalan, ledek-ledekan, trus dilanjut pukul-pukulan, lempar-lemparan sampe bakar-bakaran. Urusan satu ato dua orang dijadiin urusan dua sekolah yang saling serang.

Pernah denger juga ga soal tawuran antar kampung? Biasanya gara-gara masalah kecil juga. Ada yang gara-gara berantem anak kecil trus bapak-bapaknya jadi ikutan. Ada yang karna ketauan maling di kampung orang digebukin trus ngajak orang sekampung buat bales dendam. Ada juga yang akibat masalah rebutan perempuan. Lagi-lagi, urusan pribadi bisa berujung konflik komunal.

Trus, pernah denger juga dong perang antar suku? Biasanya juga dipicu sama hal kecil. Akumulasi ketegangan yang ada sebelumnya jadi amat sangat gampang buat bikin masalah antar pribadi seremeh apapun jadi kerusuhan hebat dengan skala destruktif yang masif.

Buat kita yang cuma dapet beritanya dari media, semua itu ga lebih dari kekonyolan paling tolol. Apa mungkin hal sekecil itu bisa dijadiin alesan buat bikin kerusakan yang demikian parah bahkan kadang nimbulin korban jiwa yang ga sedikit?

Tapi buat yang terlibat, biasanya bakal muncul kata ‘kehormatan’, ‘wibawa’, ‘harga diri’ ato apalah itu, you name it.

So guys, silakan bela ‘kehormatan’ negeri ini. Jangan biarin negara hebat ini keilangan ‘wibawa’nya di hadapan negara lain. Silakan juga angkat lagi ‘harga diri’ bangsa ini yang katanya udah diinjak-injak bangsa lain.

But please, pikirin juga akibatnya. Jumlah kerabat yang bakal keilangan pekerjaan. Nominal biaya yang mesti dikorbankan. Bahkan hitungan nyawa yang mesti disia-siakan.

Dearest friends, beberapa anjing emang menggigit. Tapi kebanyakan mereka cuma menggonggong. Mengganggu sih, but totally harmless. Jadi, ngapain juga mesti nimpukin semua anjing yang keliatan di depan kita cuma karna pernah digigit satu anjing yang ga tau munculnya dari mana?

Mungkin ga sih, masih ada harapan buat nyelametin anak kecil tadi dari kebakaran? Ga semua orang asing itu penculik, kan?

Kita emang punya nasionalisme, guys. Tapi kita juga punya banyak hal lain selain itu. Rasionalitas, misalnya.

Selamat mengabdi untuk negeri.

Ada aksi, berarti ada reaksi. Begitu kira-kira yang dibilang mbah Newton (iya gitu saya pernah kenal? prettt!).

Postingan ga jelas ini adalah reaksi saya setelah beberapa hari ini dihujani (paan sih vocab-nya?) oleh beberapa status dan link yang di-share lewat jejaring SOK SIAL (biasa aja kale, ga usah pake capslock!). Pertama adalah ketika seorang teman mengutuk seorang ibu yang bunuh anaknya sendiri. Mungkin setelah baca artikel ini. Yang kedua tentang Church plans Quran-burning event dan ajakan untuk melawan dan menentang rencana itu. Dan yang terakhir tentang Negara Terkaya Di Dunia Yang Luput Dari Perhatian Dunia, yang sejatinya bisa membakar nasionalisme sampai ke peak point-nya, tapi sayangnya terkesan menyalahkan penguasa di ujung artikelnya. Buat yang belum baca artikelnya silakan klik tautan di atas. Special (ga pake telor) buat yang kedua sengaja saya ga kasih tautannya dengan alasan saya ga mau ikut-ikutan menyebarkan keresahan (taela…!). Ditunggu lima menit ya. Ga kurang, ga lebih. Awas kalo ga balik lagi (apaaaaa coba?)

Buat teman-teman yang merasa men-share status dan link itu, please take it as an alternate point of view. Never meant to judge you, never will.

Seorang ibu yang sampai tega membunuh anak kandungnya sendiri tentunya adalah sesuatu yang sangat disayangkan. Tapi pertanyaannya, apa ya mesti sampe kutuk-mengutuk segala? Ketika sentimen anti-agama mengarah pada pelecehan simbol agama tertentu, apa ya mesti dikerahkan seluruh umat untuk melawannya? Ketika sebuah negeri kaya raya secara ironis sepertinya berada di titik nadir, apa ya mesti menyalahkan semata-mata pada penguasa?

Buat yang pertama, life is simply a series of options. Apa yang kita pilih menunjukkan siapa kita. KITA, bukan orang lain. Buat yang percaya ada kehidupan lain setelah kematian mestinya live this one and only life responsibly. Buat yang ngga percaya, wah itu yang saya ga tau. Secara saya masih punya agama. Why don’t we see it this way, buat seorang pecandu rokok menghilangkan ketergantungannya adalah sebuah penderitaan. Tapi buat yang ngga, pastinya bisa dengan entengnya bilang cuma orang gila yang mau masukin tar, nikotin dan kawan-kawannya ke dalam tubuhnya. Sama halnya dengan orang yang keranjingan nonton SHITnetron (ooops, i did it on purpose). Buat yang fully aware that it’s totally thrash bisa dengan entengnya bilang cuma orang kurang kerjaan yang mau nonton gituan. Tapi buat yang ngga, mereka bilang mind your own business. Buat beberapa kasus, ada orang yang bisa keluar dari masalah addiction ini. Dan itu adalah sebuah pilihan yang ga mudah. Tapi sebagian besar yang lain, either they tried and failed or they choosed to get along with it. Nah, untuk yang terakhir ini…apakah dengan bilang “Don’t you have any idea what the horrible thing will do to you? You’re completely idiot!” terus dia bisa dengan serta merta quitting smoking, atau berhenti nonton sampah itu . BIG NO !!!

Buat yang kedua. Judul artikel itu memang provokatif, as well as the act (if they really do it). Tapi, is there any possible way heat can put out the fire? Another BIG NO !!! Kenapa ga kita lihat seperti ini, when you tell your 3 year-old son “Honey, don’t touch this electric plug!” and what will happen? He absolutely will touch it. And why? Because he has no idea of the risk. So, instead of pointing out your finger to those non-believers and call them with bad names, why don’t we show them how this holy religion teach about peace.

Buat yang ketiga, adalah fakta bahwa negeri ini teramat sangat kaya. Adalah fakta juga bahwa ada ironi yang menyedihkan yang terjadi dibalik itu. Tapi masa sih kita bisa bertepuk sebelah tangan? (bukan lagu dangdut, lho!). Apa bisa terjadi penyuapan kalo ga ada yang nyuap? Why don’t we see this?

وَكَذَلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
“Dan demikianlah kami jadikan sebagian orang yang zalim sebagai pemimpin bagi sebagian yang lain disebabkan amal yang mereka lakukan.” (Qs Al An’am: 129)

So, rupanya kita ikut menyumbang atas kehancuran negeri ini. Lihat aja, berapa banyak orang yang masih buang sampah sembarangan. Lihat juga berapa banyak orang yang masih maling listrik di rumahnya. Biasanya alasannya cuma, kalo sedikit kan ga apa-apa. Halo mas mba, bukannya satu juta juga berawal dari angka 1? Dan lagi, apa dengan menunjuk-nunjuk penguasa sebagai biang kehancurani terus tiba-tiba negeri ini bisa makmur sejahtera? Another BIG NO !!!

Saya cuma orang reaktif. Mudah-mudahan reaksi ini bukan hal yang negatif.

So, why bother blaming the dark when we can bring in the light?

Istilah slickline berhubungan sama penggunaan kawat buat nganterin suatu alat downhole tools (insyaAlloh ntar dibahas laen waktu soal yang ini) ke dalem sumur. Yang belom mudeng soal apaan ntu slickline silakan refer ke post #1.

Jauh sebelom slickline, sekitar taun 30-an dikenal yang namanya measuring line. Waktu itu sumurnya masih dangkal, jadi orang-orang cuma pake stik gepeng aja buat ngukur dalemnya sumur. Trus, setelah sumurnya makin dalem orang-orang mulai pake tali yang ditandain. Tapi karna sering basah begitu ditarik keluar dan jadi rusak waktu digulung sebagian orang jadi beralih ke kabel. Sebagian lagi make measuring tape, semacem meteran gulung yang sering dipake tukang bangunan jaman sekarang. Tapi ternyata dua metoda ini juga ga akurat karna bisa melar dan sering putus. Di masa ini, kabel ato measuring tape digulung pake tenaga nasi dan belom bisa dipake di sumur yang bertekanan.

Baru setelah itu muncullah kawat yang penampangnya bulet kaya slickline yang kita liat sekarang. Orang yang pertama kali make yang model beginian namanya mbah Erle Palmer Halliburton (1892-1957). Ngegulungnya juga udah agak canggih, pake mesin uap dan dilengkapin pake rem tangan buat ngontrol kecepatan waktu ngulurnya.

Dekade berikutnya, muncul yang namanya side-winder. Kenapa dinamain side-winder? Karna metoda yang dipake adalah roda belakang sebelah kiri mobil (light truck) diganti ama pulley buat muterin gulungan slickline (drum)yang disimpen di bak mobil. Pastinya selama kerja posisi kiri belakang mobil mesti didongkrak. Belom ada indikator berat waktu itu, jadi seberapa kuat tarikan slickline cuma berdasarkan feeling aja waktu nginjek gas. Seberapa dalem slickline masuk ke dalem sumur juga cuma diitung berdasarkan jumlah layer (lapisan) slickline, pastinya yang diitung keliling lingkaran gulungan ato drum.

Inovasi selanjutnya baru muncul truk khusus yang dibuat dan pulley buat ngegerakin drumnya langsung dipasang di as roda belakang jadi ga perlu ngedongkrak lagi (saya juga belom begitu paham gimana masang pulley-nya).

Setelah itu mulai dibuat unit khusus pake mesin diesel buat kerja di offshore, tapi masih pake sistem mekanis. Terus dibuat juga yang namanya counter head (alat buat ngukur kedalaman) yang kaya kita liat sekarang, lagi-lagi dari si mbah Halliburton. Dan mulai dipake alat pengukur tarikan wire pake hidrolik dan elektrik.

Era berikutnya baru muncul unit hidrolik, kali ini dipelopori sama Camco di taun 70-an. Di era ini juga muncul hydraulic load cell dan odometer kaya yang kita pake sekarang. Dan sekarang kita kenal macem-macem model slickline unit. Dari yang dipasang di truk sampe yang portabel, dari yang single drum sampe yang dobel drum, dari yang open loop sampe yang closed loop.

Udah dulu dah, ngedongeng sejarahnya. Sampe ketemu di topik berikutnya.

Let’s talk about Slickline. Ya, Slickline. Ada yang tau ga? Slickline apaan sih? Mungkin buat sebagian orang kata ini tergolong keluarganya alien. Saia juga suka kebingungan tiap kali ditanya soal yang satu ini. Padahal ini kerjaan sehari-hari, tapi tetap aja ga punya jawaban praktis yang bisa bikin mudeng orang yang ngelempar pertanyaan.

Hayu atuh mari kita mulai. Pernah liat orang bikin atau benerin sumur jet pump di rumah? Jawabannya bisa iya, bisa juga ngga. Saya kasih sedikit gambaran, jet pump yang dipake di rumah-rumah itu prinsipnya adalah kipas yang menghasilkan udara bertekanan terus dialirkan buat ngedorong air dari bawah tanah supaya sampai ke permukaan. Tapi bukan itu intinya (lah ngapain juga diteranginnya kesitu? Nyang nulis juga binun!! Wakakak!!). Sekarang pernah ga ngalamin air ga mau naik terus mesti dipancing. Nah istilah ’mancing’ itu muncul kalo muka air di pipa berkurang jadi mesti diisi sampe si pipanya penuh lagi. Kenapa bisa berkurang? Kejadian begini biasanya ketemu kalo check valve di ujung pipanya bocor. Nah luh, apaan lagi tuh check valve? Ini bukan keluarga alien nyang satu lagi, tapi katup satu arah yang ngebiarin air dari luar pipa masuk sementara nyang udah di dalem ga dia kasih keluar. Nah sekarang apa yang biasa dilakuin tukang pompa air kalo ketemu masalah beginian. Biasanya yang dikerjain mesti pipa-pipanya diangkat terus check valve-nya diganti.

Barusan kita ngomongin sumur air yang dalemnya kira-kira 30-40 meter. Sekarang gimana kalo kita punya sumur yang dalemnya ratusan bahkan ribuan meter??? Masa mesti diangkat mulu tuh pipa? Sekarang bayangin kalo check valve yang tadi itu ga kita sambungin ama pipa. Coba bayangin kalo kita sambungin ’tempat duduk’nya si check valve tadi sama pipa sementara check valve-nya bisa kita pasang ato kita lepas dari ’tempat duduk’nya itu (kalo ga kebayang juga, stop reading! You’re wasting your time, ini buat nyang ngerti-ngerti aje….taela!!!).

Ok, sekarang kita udah punya ’tempat duduk’nya, terus gimana mo masang ’yang duduk’nya kalo pipanya udah ada di dalem sumur? Apa mesti pinjem pintu kemana saja-nya Doraemon? Tentu tidak! (pake intonasi kaya’ iklan jadul di tv). Buat solving this problem, kita perlu media yang bisa nganterin ’yang duduk’nya ke bawah. Tali? Bukan. Benang? Apalagi, emang mau jahit baju? Media yang kita pake kawat. Nah, muncullah yang dinamakan (eng…ing…eng) Slickline. Kesimpulannya nyang namanya Slickline ntu sejenis kawat yang dipake buat nganterin alat ato downhole tools ke dalem sumur, getooo loooh!

*pertanyaan lanjutan —- downhole tools apaan cih?
*jawaban lanjutan —– halah, ntar lagi dibahasnya…mo bikin presentasi dulu

It’s always easy to point our finger to someone (tentunya dalem hati, kalo ngga bisa bonyok dipukulin orang) and say “goblok banget sih lu”. At least, it’s been easy for me to do so. Sampai beberapa waktu lalu saia baru aja tersadar (selama ini pingsan???) kalo pendapat orang laen yang terdengar bodoh buat saia ternyata bisa jadi sebaliknya waktu orang laen menganggap pendapat saia extremely stupid.

Belom lama ini saia kebetulan mesti berinteraksi sama beberapa orang dari negaranya Anggun C Sasmi (bener kan dia bukan WNI lagi??). For some reason, tiba-tiba topik obrolannya sampai ke masalah agama. Katanya, dia ga percaya sama agama apapun. Awalnya dia bilang, cuma orang bodoh yang percaya kalo proses kejadian manusia itu dari seorang Adam yang dijodohkan dengan Hawa (or Adam and Eve, for some of you). Buat dia, itu ga ilmiah sama sekali. Buat apa penemuan fosil-fosil dan artefak-artefak kalo masih aja percaya sama yang begituan. Dia bilang juga kalo dia lebih percaya sama teori evolusinya mbah Darwin.

Saia juga ga terlalu paham kenapa dia mesti nempatin agama dan teori Darwin di tempat yang berseberangan (emang mesti segitunya ya?). Saia, sebagai muslim, pastinya menolak paham materialisme yang berpendapat semua yang ada di dunia ini cuma berawal dari materi dan muncul semata-mata by accident. Saia lebih percaya kalo semuanya ada by design dan ada Yang Menciptakan. Tapi kalo kesimpulan umumnya dari teori mbah Darwin cuma sebatas spesies yang ada sekarang adalah hasil evolusi dari spesies lain yang pernah ada sebelumnya ya silakan aja, as long as evolusi itu terjadi juga by design dari Yang Maha Menciptakan, Tapi buat dia, paham kreasionisme itu sama sekali ga scientific. Dan karna menurut dia paham itu diagung-agungkan oleh kalangan agamawan makanya dia lebih memilih untuk ga beragama sama sekali. What a pity!

Buat saia, kenapa mesti repot-repot mengkonfrontasikan agama vs science. Agama adalah soal keyakinan, dan ini adalah hal yang absolut (not to mention beragamnya penafsiran dari satu ajaran agama yang sama) sementara science adalah sesuatu yang sifatnya debatable dan sementara.

Sejarah menceritakan pada kita bagaimana teori heliosentrisnya Galileo ditentang habis oleh kalangan Gereja dan dianggap sesat dan menyesatkan. Mereka mengkonfrontasikan kitab suci dengan teori ilmiah. Lihat hasilnya, apakah dengan cara itu umat manusia semakin mendekat pada agama? Untuk masalah ini, bahkan sampai sekarang masih ada orang-orang fanatik yang entah kenapa masih menganut paham geosentris. Tapi bakal jadi pepesan kosong kalo mesti berdebat soal yang satu ini. Tapi intinya buat saia, menggunakan dogma agama untuk menempatkannya head to head dengan science adalah sesuatu yang cuma menghabiskan energi tanpa ada manfaat sedikitpun.

Sebagian dari anda mungkin sudah menganggap saia adalah bagian kaum sekuler. Weiiits, ntar dulu. Saia tidak mengatakan bahwa science harus dipisahkan dari agama. Saia juga tidak bicara agama has nothing to do with science. Tidak sama sekali. Saia mengatakan agama adalah hal yang absolut, karna buat saia Islam berdasarkan Al Quran yang merupakan firman Alloh yang tidak terbantahkan. Sedangkan science adalah hal yang debatable dan sementara, karna benar atau tidaknya masih bisa berubah seiring perjalanan waktu.

Agama mengisahkan bagaimana seorang Musa dikejar oleh Firaun dan antek-anteknya lalu kemudian diperintahkan untuk memukulkan tongkatnya ke air. Coba bayangkan, anda dikejar orang jahat dan anda memegang tongkat di tangan. Mana yang lebih logis, memukulkan tongkat itu ke air atau memukulkannya ke kepala orang yang mengejar anda? Jawaban logisnya menurut saia adalah yang kedua. Agama juga mengisahkan bagaimana seorang Nuh diperintahkan untuk membuat perahu besar di atas gunung. Bukankah akan jadi lebih logis kalo perahu itu dibuat di pinggir pantai? Tapi ternyata hal-hal yang tidak logis itu kemudian berubah menjadi sesuatu yang logis seiring dengan waktu. Pukulan tongkat Musa menjadikan laut terbelah dan menjadi escape route sekaligus kuburan masal buat Firaun and the gank. Perahu besar di atas gunung kemudian menjadi semacam sekoci penyelamat dengan delay time ketika banjir dahsyat melanda.

Jadi bicara tentang agama, kita sedang berurusan dengan benar dan salah. Sedangkan bicara tentang science, kita sedang berargumentasi tentang hal yang logis dan tidak logis. Dan kebenaran menurut perspektif agama tidak bisa dijustifikasi dengan analisa rasionalitas. Buat saia, kontradiksi antara agama dan science (kalaupun ditemukan) adalah hal yang bisa dikompromikan. Misal, ayat 38 Surat Yaasiin (ayo yang ngaku rajin yasinan, jangan cuma komat-kamit doang tanpa tahu esensi!!!!) tidak mesti diartikan matahari itu bergerak mengelilingi bumi, yang menjadi paham penganut geosentris. Bisa jadi matahari itu dikatakan bergerak relatif bila diamati dari bumi atau matahari itu bergerak bersama-sama dengan yang lainnya dalam satu galaksi kita relatif bila diamati dari luar galaksi ini. Tapi ketika kontradiksi itu tidak bisa dikompromikan, maka kebenaran yang mutlak, which is agama sebagai firman Penguasa Jagad, mesti didahulukan.

Kalo anda punya dua orang anak, mana yang anda ajarkan, kakak menghormati adik atau adik menghormati kakak? Coba ingat kisah pembangkangan iblis atas perintah sujud kepada Adam. Iblis merasa diciptakan lebih dulu daripada Adam. Iblis diciptakan dari api sedangkan Adam dari tanah. Mungkin menurut iblis, it doesn’t make sense kalo dia mesti sujud kepada Adam dilihat dari dua faktor itu saja. Tapi perintah itu tetaplah titah Robb, yang mutlak bukan hal yang debatable. Namun pengetahuan Robb Yang Menciptakan tentunya jauh lebih hebat dari sekedar logika mahluk ciptaannya. Jadi ketika kita sudah berhadapan dengan perintah Robb, tidak ada logis dan tidak logis. Ketika kita berpikir sebaliknya dan menentang-Nya, artinya kita tidak lebih baik dari iblis.

Lagi-lagi soal kata ”benar”. Tapi kali ini punya dua kata yang berbeda dari asal kata yang sama. Yang pertama ”kebenaran”. Yang kedua ”pembenaran”.

Ini bukan soal mana yang lebih kita suka,karna jawabannya mesti sama. Ini soal mana yang lebih sering kita cari. Kebenaran? Atau pembenaran?

Apa yang anda cari?
Cincin saya yang terjatuh?
Dimana anda menjatuhkannya?
Di dalam gua?
Lantas, kenapa anda mencarinya di luar sini?
Di dalam gelap, bagaimana saya bisa menemukannya?

Orang yang bodoh, mungkin begitu menurut anda. Tapi sadarkah anda, tanpa disadari kita semua pernah (atau sering?) melakukannya.

Atasan menegur kita, kita bilang beliau bersikap subjektif. Istri atau suami mengeluh atas perilaku kita, kita bilang dia terlalu posesif. Kawan mengkritik kita, kita bilang dia kelewat reaktif. Orang tua mengingatkan kita, kita katakan mereka kelewat sensitif.

Ada yang bilang satu-satunya hal paling absolut di dunia ini adalah ketidakabsolutan. Pun satu-satunya yang universal di jagad ini adalah ketidakuniversalan. Namun, kebiasaan mencari pembenaran sejatinya adalah sebuah kesalahan.

Mudah-mudahan kita menemukan jalan kita masing-masing dalam mencari kebenaran. Amin.

Kirain mo pergi kemana? Abis pake helm segala?
Mo ke pengajian ya, bu? Kok pake jilbab?
Buang disini aja lah, cuma sampah kecil aja!
Jelas aja ga beres-beres, ga pake uang rokok sih!

Saia yakin anda pernah mendengar ungkapan-ungkapan seperti itu. Atau jangan-jangan ungkapan semacam itu bahkan pernah keluar dari mulut anda?

Rupanya di akhir jaman ini banyak sekali orang yang menganggap kelaziman adalah satu-satunya parameter untuk menilai kebenaran. Merasa benar cuma karna hal yang dilakukan adalah hal yang juga biasa dilakukan oleh kebanyakan orang. Bahkan yang lebih parah lagi, berani menyalahkan orang lain yang tidak mau mengikuti jalur keseragaman demi sebuah prinsip.

Apakah ini akibat terlalu dalamnya doktrin demokrasi? Ketika pemenang ditentukan oleh suara terbanyak? Ketika suara rakyat dinyatakan sebagai suara tuhan? Tuhan yang mana?

Bayangkan bila anda tinggal di kampung maling. Mayoritas penduduknya sudah barang tentu maling. Siapa yang paling benar untuk dijadikan lurah? Jawabannya pasti maling, atau kalau perlu rampok.

Fenomena pembenaran berdasarkan kebiasaan dan penyangkalan atas ketidaklaziman terjadi hampir di semua bidang. Politikus oportunis merasa lebih hebat daripada yang idealis. Saudagar yang curang merasa lebih pintar daripada yang jujur. Pegawai negeri yang mengobyek merasa lebih pandai daripada yang mengabdi. Karyawan yang korup merasa lebih canggih daripada yang jujur. Bahkan dalam agama, seorang yang taklid buta pun berani memvonis salah saudara seimannya yang beramal dengan sandaran ilmu.

Saia, anda dan kita semua adalah bagian dari komunitas yang punya peran besar menentukan apa yang biasa dan yang tidak biasa. Sekecil apapun kesalahan yang kita lakukan, ketika itu dibarengi dengan pola yang berulang dan kemudian diikuti orang banyak sudah barang tentu kita turut andil dalam mewariskan kezaliman yang dibenarkan oleh faktor kelaziman. Wallahu’alam.