Lewati navigasi

Ada aksi, berarti ada reaksi. Begitu kira-kira yang dibilang mbah Newton (iya gitu saya pernah kenal? prettt!).

Postingan ga jelas ini adalah reaksi saya setelah beberapa hari ini dihujani (paan sih vocab-nya?) oleh beberapa status dan link yang di-share lewat jejaring SOK SIAL (biasa aja kale, ga usah pake capslock!). Pertama adalah ketika seorang teman mengutuk seorang ibu yang bunuh anaknya sendiri. Mungkin setelah baca artikel ini. Yang kedua tentang Church plans Quran-burning event dan ajakan untuk melawan dan menentang rencana itu. Dan yang terakhir tentang Negara Terkaya Di Dunia Yang Luput Dari Perhatian Dunia, yang sejatinya bisa membakar nasionalisme sampai ke peak point-nya, tapi sayangnya terkesan menyalahkan penguasa di ujung artikelnya. Buat yang belum baca artikelnya silakan klik tautan di atas. Special (ga pake telor) buat yang kedua sengaja saya ga kasih tautannya dengan alasan saya ga mau ikut-ikutan menyebarkan keresahan (taela…!). Ditunggu lima menit ya. Ga kurang, ga lebih. Awas kalo ga balik lagi (apaaaaa coba?)

Buat teman-teman yang merasa men-share status dan link itu, please take it as an alternate point of view. Never meant to judge you, never will.

Seorang ibu yang sampai tega membunuh anak kandungnya sendiri tentunya adalah sesuatu yang sangat disayangkan. Tapi pertanyaannya, apa ya mesti sampe kutuk-mengutuk segala? Ketika sentimen anti-agama mengarah pada pelecehan simbol agama tertentu, apa ya mesti dikerahkan seluruh umat untuk melawannya? Ketika sebuah negeri kaya raya secara ironis sepertinya berada di titik nadir, apa ya mesti menyalahkan semata-mata pada penguasa?

Buat yang pertama, life is simply a series of options. Apa yang kita pilih menunjukkan siapa kita. KITA, bukan orang lain. Buat yang percaya ada kehidupan lain setelah kematian mestinya live this one and only life responsibly. Buat yang ngga percaya, wah itu yang saya ga tau. Secara saya masih punya agama. Why don’t we see it this way, buat seorang pecandu rokok menghilangkan ketergantungannya adalah sebuah penderitaan. Tapi buat yang ngga, pastinya bisa dengan entengnya bilang cuma orang gila yang mau masukin tar, nikotin dan kawan-kawannya ke dalam tubuhnya. Sama halnya dengan orang yang keranjingan nonton SHITnetron (ooops, i did it on purpose). Buat yang fully aware that it’s totally thrash bisa dengan entengnya bilang cuma orang kurang kerjaan yang mau nonton gituan. Tapi buat yang ngga, mereka bilang mind your own business. Buat beberapa kasus, ada orang yang bisa keluar dari masalah addiction ini. Dan itu adalah sebuah pilihan yang ga mudah. Tapi sebagian besar yang lain, either they tried and failed or they choosed to get along with it. Nah, untuk yang terakhir ini…apakah dengan bilang “Don’t you have any idea what the horrible thing will do to you? You’re completely idiot!” terus dia bisa dengan serta merta quitting smoking, atau berhenti nonton sampah itu . BIG NO !!!

Buat yang kedua. Judul artikel itu memang provokatif, as well as the act (if they really do it). Tapi, is there any possible way heat can put out the fire? Another BIG NO !!! Kenapa ga kita lihat seperti ini, when you tell your 3 year-old son “Honey, don’t touch this electric plug!” and what will happen? He absolutely will touch it. And why? Because he has no idea of the risk. So, instead of pointing out your finger to those non-believers and call them with bad names, why don’t we show them how this holy religion teach about peace.

Buat yang ketiga, adalah fakta bahwa negeri ini teramat sangat kaya. Adalah fakta juga bahwa ada ironi yang menyedihkan yang terjadi dibalik itu. Tapi masa sih kita bisa bertepuk sebelah tangan? (bukan lagu dangdut, lho!). Apa bisa terjadi penyuapan kalo ga ada yang nyuap? Why don’t we see this?

وَكَذَلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
“Dan demikianlah kami jadikan sebagian orang yang zalim sebagai pemimpin bagi sebagian yang lain disebabkan amal yang mereka lakukan.” (Qs Al An’am: 129)

So, rupanya kita ikut menyumbang atas kehancuran negeri ini. Lihat aja, berapa banyak orang yang masih buang sampah sembarangan. Lihat juga berapa banyak orang yang masih maling listrik di rumahnya. Biasanya alasannya cuma, kalo sedikit kan ga apa-apa. Halo mas mba, bukannya satu juta juga berawal dari angka 1? Dan lagi, apa dengan menunjuk-nunjuk penguasa sebagai biang kehancurani terus tiba-tiba negeri ini bisa makmur sejahtera? Another BIG NO !!!

Saya cuma orang reaktif. Mudah-mudahan reaksi ini bukan hal yang negatif.

So, why bother blaming the dark when we can bring in the light?

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.