Kirain mo pergi kemana? Abis pake helm segala?
Mo ke pengajian ya, bu? Kok pake jilbab?
Buang disini aja lah, cuma sampah kecil aja!
Jelas aja ga beres-beres, ga pake uang rokok sih!
Saia yakin anda pernah mendengar ungkapan-ungkapan seperti itu. Atau jangan-jangan ungkapan semacam itu bahkan pernah keluar dari mulut anda?
Rupanya di akhir jaman ini banyak sekali orang yang menganggap kelaziman adalah satu-satunya parameter untuk menilai kebenaran. Merasa benar cuma karna hal yang dilakukan adalah hal yang juga biasa dilakukan oleh kebanyakan orang. Bahkan yang lebih parah lagi, berani menyalahkan orang lain yang tidak mau mengikuti jalur keseragaman demi sebuah prinsip.
Apakah ini akibat terlalu dalamnya doktrin demokrasi? Ketika pemenang ditentukan oleh suara terbanyak? Ketika suara rakyat dinyatakan sebagai suara tuhan? Tuhan yang mana?
Bayangkan bila anda tinggal di kampung maling. Mayoritas penduduknya sudah barang tentu maling. Siapa yang paling benar untuk dijadikan lurah? Jawabannya pasti maling, atau kalau perlu rampok.
Fenomena pembenaran berdasarkan kebiasaan dan penyangkalan atas ketidaklaziman terjadi hampir di semua bidang. Politikus oportunis merasa lebih hebat daripada yang idealis. Saudagar yang curang merasa lebih pintar daripada yang jujur. Pegawai negeri yang mengobyek merasa lebih pandai daripada yang mengabdi. Karyawan yang korup merasa lebih canggih daripada yang jujur. Bahkan dalam agama, seorang yang taklid buta pun berani memvonis salah saudara seimannya yang beramal dengan sandaran ilmu.
Saia, anda dan kita semua adalah bagian dari komunitas yang punya peran besar menentukan apa yang biasa dan yang tidak biasa. Sekecil apapun kesalahan yang kita lakukan, ketika itu dibarengi dengan pola yang berulang dan kemudian diikuti orang banyak sudah barang tentu kita turut andil dalam mewariskan kezaliman yang dibenarkan oleh faktor kelaziman. Wallahu’alam.