Alhamdulillah…akhirnya pulang juga, setelah tiga minggu panjang yang lumayan melelahkan. Beruntung banget karna flight-nya tadi on time, walaupun sempat protes sama takdir setelah tiket return garudanya hangus karna expired satu hari dan mesti mencukupkan pulang pakai batavia. Bodo amat lah, judulnya kan pulang juga.
Bangun pagi-pagi, sarapan buru-buru, take-off dari Lhoksukon 06:30, transit di Polonia, landing di Soekarno-Hatta sudah lewat tengah hari, sampe rumah hampir 13:30. Halogen maha dahsyat di atas kepala lagi lucu-lucunya. Sempat dapat teguran batin, kalau dunia bisa begini panas bagaimana lagi hari Perhitungan dan hari-hari sesudahnya bila cita-cita surga ga kesampaian. Astaghfirullah.
Istri di rumah sudah makin kepayahan dengan perutnya yang semakin besar. Rabb, ampuni bila sempat kusia-siakan amanatMU. Orang-orang kantoran yang pergi pagi pulang malam rasanya belum tentu bisa merasakan sensasi it’s good to be back seperti ini. Tiga minggu dipisahkan jarak memang karunia hebat untuk menciptakan indahnya kerinduan yang terobati. Begitu banyak manis yang Kau berikan setelah kegetiran.
Ashar kembali ke Al Ikhlas. Adzan sendiri, iqamat sendiri, shalat sendiri. Duh, Rabb…sedih rasanya saat membayangkan semangat membara saudara-saudara seiman saat membangunnya yang seperti menguap pasca berdirinya. Astaghfirullah, ini kan waktu ashar, mereka pasti belum pulang kantor. Alhamdulillah, waktu maghrib betul-betul berjamaah, walaupun cuma ada tiga orang dewasa, begitu juga isya. Untungnya ada anak-anak yang meramaikan suasana. Semoga saja mereka yang polos bisa jadi tetesan embun hidayah untuk orangtuanya.
Ba’da isya sempat ngobrol-ngobrol dengan topik jumlah jamaah yang bikin hati miris. Saia suggest supaya ada figur yang bisa mengajak. Syaratnya orang itu mesti punya dua kriteria, bisa diterima semua orang dan bisa jadi teladan. Dari sudut pandang saia, satu hal yang sia-sia kalau yang mengajak bukan orang bisa menyentuh secara pribadi orang per orang dan jadi hal yang kontraproduktif juga kalau yang mengajak ternyata juga jarang datang ke mushola. Kriteria yang sangat sulit buat terpenuhi secara bersamaan. Mudah-mudahan nanti ada solusinya. InsyaAllah.
6 Komentar
Pulang, setiap mendengar kata itu saya jadi teringat nabi Ibrahim yang ditanya hendak kemana? Ia menjawab ia hendak ke Allah swt. Setiap manusia selalu berorientasi untuk pulang, dan ketika kaki telah menjejak di ranah yang disebut “rumah” –seringkali bibir dan lidah kehilangan kata-kata.
Sepertinya kalau zaman sekarang kalau ingin mengajak jangan “sok” menasihati atau dengan ceramah2 panjang yang membosankan. Mungkin memang tidak bisa sekali ajak, untuk mengajak orang sama2 berjamaah di masjid. Yang penting adalah usaha kita yang kontinu, walaupun belum berhasil, insha Allah kita telah mendapatkan pahala karena berusaha mengajak orang2 untuk berjamaah di masjid.
Kapan yah, aku juga pulang dari Aceh…
Dah kangen kampung halaman….
#friend
lha memang kampungnya dimana mas?
saia malah udah balik lagi ke aceh
mas-nya aceh sebelah mana?
Kampung halaman seh di wonosobo, dibawah dataran tinggi Dieng dan kaki 2 gunung Sumbing Sindoro. Tapi saat ini terhitung tinggal di Jogja.
Kalo di Acehnya di Banda Aceh..di Lampineung.
Onlinenya dari kantor Gubernur..
hohohoh enak banget
emang bete kayaknya sih kalau tiket dicancel tapi ama pulang kampung ke medan….sementara sy sejak sd ngak pernah pulang kampung. Dan sekalinya pulang, sy malah kebagian tugas menjaga rumah karena berada di daerah rawan kejahatan di bandung