Lunch break neh….check mail dulu ahh….eh ada *** has updated her friendster blog….posting apaan sih dia?….fenomenal ayat-ayat cinta….emang segitu fenomenalnya ya?

Dari blognya seorang kawan loncat ke blog yang kasih komen, dari situ lompat lagi ke tempat bloggers laen yang juga kasih komen. Jadi makin penasaran, masukin keywoard di google, makin banyak postingan soal itu. Untung aja blogwalkingnya ga pake tungkai kaki beneran, jadi ga terlalu cape.

Ada yang bilang novelnya top markotop. Ada yang bilang filmnya bikin air mata berderai-derai. Ada yang bilang novel islami itu jadi sangat picisan, business-oriented, kehilangan soul-nya ketika difilmkan. Ada juga yang bilang novel ya novel, pilem ya pilem, ga bisa dibandingin.

Saya bukan orang film, ga berbakat dan ga punya interest yang mendalam soal sinematografi. Saya juga bukan orang sastra, jadi bukan porsi saya menilai film dan novel (apalagi saya belum baca versi novelnya). Saya cuma kebetulan pernah nonton filmnya, itupun setelah diintimidasi istri yang sedang hamil sampe betul-betul pushed to the edge dan terpaksa ngintilin ke 21 setelah sebelumnya nitipin jagoan kecil saya ke rumah neneknya.

Back to the topic, saya terpaksa mengatakan bahwa film ini jauh dari kategori fenomenal. Kok gitu? Pernah nonton Janji Joni ga? Di film itu kita dikasih liat visualisasi bagaimana sebuah karya motion picture bisa merubah habbit, penampilan, point of view, attitude, orientasi hidup (atau bahkan hidup sekalipun?) orang yang menontonnya. Kesuksesan film Ayat-ayat Cinta (based on jumlah orang yang membeli tiket masuk 21) ternyata jauh dari mampu untuk itu. Karna faktanya….

#1 Karakter Aisha digambarkan sebagai muslimah berhijab (bahkan dengan cadar), tapi somehow ga muncul tren berpakaian seperti Aisha. Liat ke belakang, hair cut-nya Demi Moore di film Ghost jauh lebih berdaya magis kan? Itu baru fenomenal.
#2 Karakter Fahri described as cowo asli indo yang studi S2 di Mesir yang desperately attempting to be hafidz Qur’an, tapi ga muncul juga tuh tren Fahri wanna be. Coba plesbek ke film AADC, banyak anak-anak muda yang mendadak hobi nenteng buku-buku sastra ke tempat hang out, Rangga wanna be banget kan?
#3 Poligami itu halal, begitu yang divisualkan di film Ayat-ayat Cinta. Tapi feminisme ga bergeming tuh. Inget film Arisan? Surya dan Tora lebih punya influence buat bikin orang bilang “Gue gay, so what?” dan “Dia gay? Biar aja, life is all about choices, huh?”

See? Fenomenal? Ga banget kan? Sori banget, tapi buat mas Hanung… sending massage: failed. Anyway, saya harus tetap berterimakasih karna mas Hanung sudah ikut dalam dakwah menjelaskan bahwa Islam adalah kedamaian dan kasih sayang (scene: Fahri membela dua orang Yankees). Buat kang Abik, hopefully saia bisa baca novelnya kapan-kapan.

Satu komentar

  1. Yang jadi fenomena, banyak orang yang tadinya ngga ke bioskop, punya alasan ke bioskop.
    Filmnya tidak dimaksudkan untuk yang disebutkan diatas, tidak seperti novelnya.
    Mudah-mudahan saja pada baca novelnya, dan mengambil pelajarannya seperti disini


Tulis sebuah Komentar

*
*