Lagi-lagi soal kata ”benar”. Tapi kali ini punya dua kata yang berbeda dari asal kata yang sama. Yang pertama ”kebenaran”. Yang kedua ”pembenaran”.

Ini bukan soal mana yang lebih kita suka,karna jawabannya mesti sama. Ini soal mana yang lebih sering kita cari. Kebenaran? Atau pembenaran?

Apa yang anda cari?
Cincin saya yang terjatuh?
Dimana anda menjatuhkannya?
Di dalam gua?
Lantas, kenapa anda mencarinya di luar sini?
Di dalam gelap, bagaimana saya bisa menemukannya?

Orang yang bodoh, mungkin begitu menurut anda. Tapi sadarkah anda, tanpa disadari kita semua pernah (atau sering?) melakukannya.

Atasan menegur kita, kita bilang beliau bersikap subjektif. Istri atau suami mengeluh atas perilaku kita, kita bilang dia terlalu posesif. Kawan mengkritik kita, kita bilang dia kelewat reaktif. Orang tua mengingatkan kita, kita katakan mereka kelewat sensitif.

Ada yang bilang satu-satunya hal paling absolut di dunia ini adalah ketidakabsolutan. Pun satu-satunya yang universal di jagad ini adalah ketidakuniversalan. Namun, kebiasaan mencari pembenaran sejatinya adalah sebuah kesalahan.

Mudah-mudahan kita menemukan jalan kita masing-masing dalam mencari kebenaran. Amin.

Kirain mo pergi kemana? Abis pake helm segala?
Mo ke pengajian ya, bu? Kok pake jilbab?
Buang disini aja lah, cuma sampah kecil aja!
Jelas aja ga beres-beres, ga pake uang rokok sih!

Saia yakin anda pernah mendengar ungkapan-ungkapan seperti itu. Atau jangan-jangan ungkapan semacam itu bahkan pernah keluar dari mulut anda?

Rupanya di akhir jaman ini banyak sekali orang yang menganggap kelaziman adalah satu-satunya parameter untuk menilai kebenaran. Merasa benar cuma karna hal yang dilakukan adalah hal yang juga biasa dilakukan oleh kebanyakan orang. Bahkan yang lebih parah lagi, berani menyalahkan orang lain yang tidak mau mengikuti jalur keseragaman demi sebuah prinsip.

Apakah ini akibat terlalu dalamnya doktrin demokrasi? Ketika pemenang ditentukan oleh suara terbanyak? Ketika suara rakyat dinyatakan sebagai suara tuhan? Tuhan yang mana?

Bayangkan bila anda tinggal di kampung maling. Mayoritas penduduknya sudah barang tentu maling. Siapa yang paling benar untuk dijadikan lurah? Jawabannya pasti maling, atau kalau perlu rampok.

Fenomena pembenaran berdasarkan kebiasaan dan penyangkalan atas ketidaklaziman terjadi hampir di semua bidang. Politikus oportunis merasa lebih hebat daripada yang idealis. Saudagar yang curang merasa lebih pintar daripada yang jujur. Pegawai negeri yang mengobyek merasa lebih pandai daripada yang mengabdi. Karyawan yang korup merasa lebih canggih daripada yang jujur. Bahkan dalam agama, seorang yang taklid buta pun berani memvonis salah saudara seimannya yang beramal dengan sandaran ilmu.

Saia, anda dan kita semua adalah bagian dari komunitas yang punya peran besar menentukan apa yang biasa dan yang tidak biasa. Sekecil apapun kesalahan yang kita lakukan, ketika itu dibarengi dengan pola yang berulang dan kemudian diikuti orang banyak sudah barang tentu kita turut andil dalam mewariskan kezaliman yang dibenarkan oleh faktor kelaziman. Wallahu’alam.

Gila ajah, ngomongnya sih mau nge-blog lagi. Tapi itu udah sepuluh bulan lalu. Kebanyakan kerjaan? Ga juga, sih. Mungkin ada beberapa hal baru yang ternyata perlu waktu lebih untuk konsentrasi. Bukan karna level kerjaannya, tapi rasanya lebih pada kemampuan yang empunya otak yang memang cuma segitu-gitunya.

Setelah lepas dari Aceh, berpindah job site mungkin termasuk penyebab berkurang drastisnya semangat melongok blog ini. Lokasi-lokasi yang jauh dari peradaban dengan keterbatasan akses internet (yang gratis, tentunya) sepertinya jadi faktor paling utama. Belum lagi terpaan hebat demam facebook yang bikin saia (dan mungkin beberapa dari anda) terlena. Walaupun tingkat exposure dari wabah ini buat saia rasanya jauh dari level yang dialami teman-teman lain. Tapi harus diakui epidemi satu ini memang hebat.

Kali ini, setelah sekian lama, saia berniat penuh untuk kembali mengisi halaman-halaman kosong blog ini. Dengan niat merekam hal-hal kecil yang terlintas dengan harapan bisa dijadikan referensi langkah berikutnya dalam hidup. Atau setidaknya sekedar mengingatkan suatu hari nanti tentang masa yang lewat dan dengan bangga saia bisa berucap “I’ve been through this….”.

Bro and sis, nice to see you all…..again.

Lama juga ga ngeblog. Kangen, euy. Tiga bulan lebih saia ga ngoprek lahan ini. Blogwalkingbya sih masih kadang-kadang, tapi rasanya ga mood aja buat terlibat lebih jauh. Walaupun postingan manusia-manusia cerdas itu amat sangat menggoda juga buat dikomentarin. Rada binun juga sih kenapa. Jangankan buat posting, kasih komen aja rasanya ga ada semangat.

Mungkin awalnya karna saia punya mainan baru di rumah. Putri mungil saia lahir akhir April kemarin di r.s. advent bandung. Alhamdulillah, waktu itu saia berhasil kabur dari job site. Berangkat dari rumah dengan niatan kontrol, tapi akhirnya malam itu si cantik pecah juga tangisnya demi paksaan keluar dari rahim ibunya. Ya, si kecil lahir lewat operasi cesar. Posisinya tergantung tali pusar, dokter ga mau ambil resiko. Istri saia yang bertekad buat persalinan alami yang kedua akhirnya pasrah juga. Padahal sore itu, demi memudahkan jalan lahir (tips yang saia sendiri ga paham betul atau salahnya), dia ngajak saia jalan dari pamoyanan ke klinik dokternya di cihampelas. Jarak yang ga mungkin dia tempuh tanpa motivasi yang super duper hebat.

Anyway, mudah-mudahan postingan ini jadi come back yang bagus buat saia di blogosphere. Hello, world! I’m back.

Baru aja kemarin postingan saia judulnya pulang. Eh, udah balik lagi ke daerah berbahaya. Ini kali ya yang namanya professional hazard? Sempat membatin juga, sepertinya lebih nyaman kalo jadi entrepreneur yang bisa atur schedule sesuka hati. Tapi, iya gitu lebih enak? Jangan-jangan malah lebih ribet?

 

Dapat telpon dari kantor sudah hampir jam lima sore, disuruh cari tiket sendiri pakai uang sendiri dulu, malam itu juga mesti berangkat. Istri saia yang nongkrongin saia selama terima telpon langsung paham bakal ada kabar yang kurang bagus. Errrgh…padahal lagi nunggu kelahiran anak kedua. Secara, waktu kelahiran anak pertama aja saia malah lagi di tengah laut ngurusin sumur ga jelas. Waktu itu berniat setelah trip terakhir mau ambil cuti karna prediksi kelahirannya masih beberapa minggu lagi. Tapi prediksi tinggal prediksi, jagoan kecil saia rupanya ga sabar mau jadi warga dunia. Kali ini, dokter ngasih prediksi antara akhir april sampai awal mei. Cutinya belum di-propose malah udah dapat call out lagi. Mudah-mudahan anak kedua ini bisa sedikit “sabar” nunggu ayahnya pulang dari job site.

 

On the way ke bandara hujan deras, a lot like storm malah. Sayangnya calon penumpang seperti saia sudah berusaha setengah mampus biar bisa on time, sampai bandara malah  dikasih kabar setengah jam delayed. Katanya sih karna alasan operasional. Tapi percuma digerutuin, cuma bikin mood jadi jelek. Lebih bagus ngeladenin ocehan kampung tengah yang minta diisi. Meluncur ke Singgalang nikmatin nasi rendang plus tehbotol. Ternyata bersabar memang seringkali bawa kenikmatan, coba kalo ga delayed???

 

Kemarin di rumah ngapain aja ya? Ahad lalu sempat ikut kajian di Baiturrahman, alhamdulillah dapet tambahan ilmu. Al Ikhlas sudah punya mading. Terakhir saia tinggal sudah rilis edisi kedua, isinya tentang pentingnya shalat berjamaah. Mudah-mudahan bisa mengedukasi teman-teman yang belum tergerak buat memenuhi panggilan adzan. Selama off kemarin juga mencoba melahirkan habbit baru, tadarus qur’an bareng ba’da subuh. Alhamdulillah, ga pernah kurang dari tiga orang. Saia coba menularkan ilmu tajwid saia yang pas-pasan sama teman-teman. Mudah-mudahan ga malah jadi fitnah karna sudah “berani” mengajarkan tanpa ilmu yang memadai. Karna faktanya bacaan teman-teman yang lain masih sering hantam kromo tanpa tajwid. Sedih rasanya, kalau dibiarin begitu aja.

 

Satu lagi yang cukup bikin saia terharu adalah habbit baru yang coba saia lakukan buat jamaah anak-anak. Accidentally happened sih sebetulnya. Waktu itu kebetulan guru ngaji anak-anak, yang juga tetangga saia yang penghulu di KUA, berhalangan hadir. Saya pikir kasian juga kalo anak-anak itu pulang ke rumah tanpa dapat apa-apa. Akhirnya saia berinisiatif buat mengisi kekosongan dengan story telling. Materinya cerita-cerita tentang nabi dan para sahabat yang saia pernah baca. Pengalaman yang menarik buat saia, karna ternyata ga mudah buat ngomong di depan anak-anak, apalagi yang usia pra sekolah. Harapan saia ga terlalu banyak, sekedar berbagi kisah teladan yang mudah-mudahan bisa inspiring dan jadi motivasi buat mengikuti way of life hamba-hamba Allah terpilih. Yang bikin saia terharu ternyata anak-anak itu jadi addicted dengan kebiasaan baru itu. Mereka selalu minta cerita baru, bahkan saat guru ngajinya ga berhalangan sekalipun.

 

Akhirnya boarding juga ke dalam 737-900. Bukan setengah jam sesuai informasi awal, tapi lebih dari satu jam delayed. Errrgh…padahal sudah berjuang membelah badai tadi. Tapi lagi-lagi percuma digerutuin. Mau complain sama siapa? Pramugari-pramugari itu kan cuma paham urusan on board aja. Kalo urusan di luar kabin dan seribu satu tetek bengeknya mereka juga cuma a bunch of innocent people. Berusaha sleeping chicken (baca: tidur2 ayam) di seat 7E, akhirnya malah tidur betulan sampai landing di Polonia. Sudah hampir jam sebelas malam, cari tempat buat stay overnight. Malam itu cuma blogwalking sampai pagi. Wara-wiri diblog orang-orang intelek super kreatif dan inovatif dengan semiliar ide yang sepertinya ga ada habisnya. Putar-putar di dunia maya ternyata cukup melenakan. Ga terasa sampai adzan subuh dan akhirnya malah telat ikut berjamaah, sampai di masjid jamaah sudah posisi tahiyat. Tapi insyaAllah terasa nikmat banget bisa baca ayat-ayat panjang sesuka hati, daripada cuma disesalin karna ga sempat shalat bareng imam.

 

Setelah sarapan berangkat lagi ke Polonia. Masih terlalu pagi, check in counter aja belum dibuka. Lumayan, ada waktu buat ke toilet dulu. Inilah hebatnya bandara internasional di Medan. Kalo boleh agak kasar, rest room di luarnya ga jauh beda sama wc yang ada di Pulo Gadung. Kalo yang di dalam ruang tunggu di domestic departure-nya sih baru. Itupun karna kemarin sempat luluh lantak dimakan api dan baru aja di-refurbish. Sebelumnya, sama aja, cuma beda tipis. Suka wondering juga kemana perginya airport tax yang dua puluh lima ribu per orang, yang kalo dikalikan empat ribu orang per hari aja sudah mencapai angka seratus juta. Masya Allah! Masa uang segitu ga bisa dapat rest room yang layak?

 

Kurang dari empat puluh lima menit di dalam Beechcraft 1900 sudah mendarat lagi di Point-A. Bismillah. Siap tempur lagi nih.

 

 

 

Alhamdulillah…akhirnya pulang juga, setelah tiga minggu panjang yang lumayan melelahkan. Beruntung banget karna flight-nya tadi on time, walaupun sempat protes sama takdir setelah tiket return garudanya hangus karna expired satu hari dan mesti mencukupkan pulang pakai batavia. Bodo amat lah, judulnya kan pulang juga.

Bangun pagi-pagi, sarapan buru-buru, take-off dari Lhoksukon 06:30, transit di Polonia, landing di Soekarno-Hatta sudah lewat tengah hari, sampe rumah hampir 13:30. Halogen maha dahsyat di atas kepala lagi lucu-lucunya. Sempat dapat teguran batin, kalau dunia bisa begini panas bagaimana lagi hari Perhitungan dan hari-hari sesudahnya bila cita-cita surga ga kesampaian. Astaghfirullah.

Istri di rumah sudah makin kepayahan dengan perutnya yang semakin besar. Rabb, ampuni bila sempat kusia-siakan amanatMU. Orang-orang kantoran yang pergi pagi pulang malam rasanya belum tentu bisa merasakan sensasi it’s good to be back seperti ini. Tiga minggu dipisahkan jarak memang karunia hebat untuk menciptakan indahnya kerinduan yang terobati. Begitu banyak manis yang Kau berikan setelah kegetiran.

Ashar kembali ke Al Ikhlas. Adzan sendiri, iqamat sendiri, shalat sendiri. Duh, Rabb…sedih rasanya saat membayangkan semangat membara saudara-saudara seiman saat membangunnya yang seperti menguap pasca berdirinya. Astaghfirullah, ini kan waktu ashar, mereka pasti belum pulang kantor. Alhamdulillah, waktu maghrib betul-betul berjamaah, walaupun cuma ada tiga orang dewasa, begitu juga isya. Untungnya ada anak-anak yang meramaikan suasana. Semoga saja mereka yang polos bisa jadi tetesan embun hidayah untuk orangtuanya.

Ba’da isya sempat ngobrol-ngobrol dengan topik jumlah jamaah yang bikin hati miris. Saia suggest supaya ada figur yang bisa mengajak. Syaratnya orang itu mesti punya dua kriteria, bisa diterima semua orang dan bisa jadi teladan. Dari sudut pandang saia, satu hal yang sia-sia kalau yang mengajak bukan orang bisa menyentuh secara pribadi orang per orang dan jadi hal yang kontraproduktif juga kalau yang mengajak ternyata juga jarang datang ke mushola. Kriteria yang sangat sulit buat terpenuhi secara bersamaan. Mudah-mudahan nanti ada solusinya. InsyaAllah.

…kemarin baru turun dari remote site…sinyal Telkomsel sudah kembali muncul…iseng-iseng telpon tetangga saia (TS)…update berita terbaru dari sekitaran rumah. 

Saia   : Assalamu’alaikum.

TS     : ‘Alaikumsalam, selasa jadi pulang? (to the point banget seh…)

Saia   : Kaya’nya ga jadi deh. Ada kerjaan yang belum kelar. 

….kebetulan abis tubing clearance kemarin dapat kabar gauge-nya mau datang… 

TS     : Jadi kapan pulang? (keukeuh banget…)

Saia   : Mungkin di-extend 3 ato 4 hari lagi. Gimana populasi jamaah mushola, nambah   ga?

TS     : Nambah sih ngga. Cuma personil yang biasa fluktuatif. Kadang ada 3, kadang 4. Yah gapapa lah, yang penting kan ada minimal 2 orang.  

…pasrah banget ya…padahal waktu bangun musholanya semangat banget…eh, giliran ngisinya ogah-ogahan…astaghfirullah, mungkin mereka punya alasan lain yang saia ga tau… 

Saia   : Kabarnya keluarga J (anak tetangga saya yang ayahnya baru aja meninggal) gimana?

TS     : Lagi bikin warung. Katanya mau jualan bakso gitu. Saya udah saranin buat jualan pulsa aja, nanti saya ajarin caranya. Tapi dia kaya’nya udah punya rencana lain. Biar aja lah, mungkin dia ngerasa sreg-nya disitu.

Saia   : Iya lah. Kasian juga, dia kan ga punya mata pencaharian lain selain dari suaminya yang udah meninggal.

TS     : Nah itu dia, kemarin abis subuh saya ngobrol-sama pak T (tetangga saia yang lain). Dulu juga kan dicontohin ama Rasulullah buat nyantunin janda-janda dengan cara dinikahin. Kalo saya sih belum bisa, pak T juga bilang belum sanggup. Kaya’nya yang depan rumah (maksudnya saia) udah bisa tuh.  

…ketawa garing…speechless sejenak…tawaran poligami…hare gene…ntar dulu deh…ada-ada gajah…gabruk…

Lunch break neh….check mail dulu ahh….eh ada *** has updated her friendster blog….posting apaan sih dia?….fenomenal ayat-ayat cinta….emang segitu fenomenalnya ya?

Dari blognya seorang kawan loncat ke blog yang kasih komen, dari situ lompat lagi ke tempat bloggers laen yang juga kasih komen. Jadi makin penasaran, masukin keywoard di google, makin banyak postingan soal itu. Untung aja blogwalkingnya ga pake tungkai kaki beneran, jadi ga terlalu cape.

Ada yang bilang novelnya top markotop. Ada yang bilang filmnya bikin air mata berderai-derai. Ada yang bilang novel islami itu jadi sangat picisan, business-oriented, kehilangan soul-nya ketika difilmkan. Ada juga yang bilang novel ya novel, pilem ya pilem, ga bisa dibandingin.

Saya bukan orang film, ga berbakat dan ga punya interest yang mendalam soal sinematografi. Saya juga bukan orang sastra, jadi bukan porsi saya menilai film dan novel (apalagi saya belum baca versi novelnya). Saya cuma kebetulan pernah nonton filmnya, itupun setelah diintimidasi istri yang sedang hamil sampe betul-betul pushed to the edge dan terpaksa ngintilin ke 21 setelah sebelumnya nitipin jagoan kecil saya ke rumah neneknya.

Back to the topic, saya terpaksa mengatakan bahwa film ini jauh dari kategori fenomenal. Kok gitu? Pernah nonton Janji Joni ga? Di film itu kita dikasih liat visualisasi bagaimana sebuah karya motion picture bisa merubah habbit, penampilan, point of view, attitude, orientasi hidup (atau bahkan hidup sekalipun?) orang yang menontonnya. Kesuksesan film Ayat-ayat Cinta (based on jumlah orang yang membeli tiket masuk 21) ternyata jauh dari mampu untuk itu. Karna faktanya….

#1 Karakter Aisha digambarkan sebagai muslimah berhijab (bahkan dengan cadar), tapi somehow ga muncul tren berpakaian seperti Aisha. Liat ke belakang, hair cut-nya Demi Moore di film Ghost jauh lebih berdaya magis kan? Itu baru fenomenal.
#2 Karakter Fahri described as cowo asli indo yang studi S2 di Mesir yang desperately attempting to be hafidz Qur’an, tapi ga muncul juga tuh tren Fahri wanna be. Coba plesbek ke film AADC, banyak anak-anak muda yang mendadak hobi nenteng buku-buku sastra ke tempat hang out, Rangga wanna be banget kan?
#3 Poligami itu halal, begitu yang divisualkan di film Ayat-ayat Cinta. Tapi feminisme ga bergeming tuh. Inget film Arisan? Surya dan Tora lebih punya influence buat bikin orang bilang “Gue gay, so what?” dan “Dia gay? Biar aja, life is all about choices, huh?”

See? Fenomenal? Ga banget kan? Sori banget, tapi buat mas Hanung… sending massage: failed. Anyway, saya harus tetap berterimakasih karna mas Hanung sudah ikut dalam dakwah menjelaskan bahwa Islam adalah kedamaian dan kasih sayang (scene: Fahri membela dua orang Yankees). Buat kang Abik, hopefully saia bisa baca novelnya kapan-kapan.

Blog? Apaan seh? Bukannya itu yang suka diteriakin bobotoh? (wasit **blog….wasit **blog) Naros heula ka kang google ah, bisi salah.

Ooooooooo (banyak banget O-nya? sengaja buat dramatisasi penggambaran curiousity yang berakhir dalam sebuah pencerahan, bahasa halus dari deskripsi ke-oon-an penulis). Jadi itu toh blog? (kemane aje, cuy?) Website gretong toh, napa ga bilang dari dulu (lu nya aja yang gaptek, jiwa jadul, old-fashioned, kampungan, norak, katrok…makanya banyak-banyak gaul ama orang pinter), yang begene neh yang saia (latah ama ibunya anak-anak Ahmad Dhani, hope they’ll never get divorced) suka, Gratisan geto loh, sayang banget kalo dilewatin (sambil inget jaman nge-kos di Bandung dulu, extremely excited banggets kalo ada yang bikin acara selametan, which means free meal).

Ya udah deh, (deu kaya yang pasrah, padahal udah nafsu banget obviously seen dari ceceran iler di ujung bibir), ikutan nge-blog juga. Better late than never kan, guys? (jawab iya aja lah, ga bahagia banget seh kalo liat orang laen senang).

So here I am. Start blogging. Not just read someone’s blog. You, yeah you, take a closer look. I’m writing my own now. It’s not intended for anybody but me. But feel free if you find it good for you. Bloggers rule!!!

Sok iyeh banget ya, balaga pisan, make nginggris sagala. Tapi gapapa lah, itung-itung memorizing my childhood jaman bareto waktu di L.A. (Legok *Angseur, huh?).

Jadi mau posting apaan neh? Mana kata orang first impression menentukan kesuksesan lagi. Peduli amat sih apa kata orang (visualisasi: muka dibikin seculas mungkin). Tapi beneran loh, ada ustadz pernah bilang amalan apapun bakal diterima Allah cuma kalo 2 syarat dipenuhin, niat yang ikhlas dan kesesuaian dengan tuntunan Rasulullah SAW. See? Niat kan di awal (ya iya lah, masa ya iya dong), jadi awal yang bagus adalah salah satu prasyarat mutlak dari keberhasilan pencapaian tujuan (deu, sok analitis puitis najisss!).

Back to the question, mau posting apaan neh? Dasar inlander, sibuk ngobrol ngalor ngidul ngulon ngetan tapi begitu sampe substansi malah pasang tampang basi. Liat dong manusia-manusia terdidik dengan budaya tinggi dan penguasaan teknologi terkini di belahan dunia sebelah sana (sebelah mana ya, liat peta dulu ah, tapi si Dora belum tayang di tipi neh? p.s. yang ga ngerti relation between Dora ama peta tanya aja ama anak umur 3 sampe 7 taun), yang straight to the point, ga banyak basa-basi yang kebanyakan malah busuk.

By the way anyway, know what, saia punya interesting little something (setidaknya menurut saia menarik) stori getu deh soal budaya kita ama budaya orang luar (bukan luar angkasa, maksudnya orang indo ama non-indo). Let’s check it out (apaan lagi seh neh? pura-pura binun padahal bingung).

Ceritanya waktu itu lagi coffe break di salah satu job site, saia terlibat obrolan ringan ama co-man (istilah buat client representative). Temanya somehow menyebrang jauh melintasi lautan ke negara pulau bernama Singapura. Sang co-man mendongeng tentang betapa bersihnya Singapura, betapa teraturnya negara yang miskin sumber daya alam itu, betapa nyamannya pedestrian disana. Takjub dengan deskripsi yang begitu hebatnya (secara, saia memang belum pernah kesana), saia cuma bisa jadi perfect listener sambil berimajinasi kalau someday negara kita tercinta, at least one of big cities here, bisa kaya begitu juga.

End of discussion? Iya sih, tapi engga juga (binun kan? iya aja deh, karena I’m intended to do so, bikin anda binun). After all those great stories, sang co-man melakukan closing yang lebih menakjubkan, beliau yang selama ngocoblak (ngerti ga?) tadi sibuk melakukan fogging (synonim for smoking) menekan ujung rokoknya ke pinggiran meja dan, here the greater story goes, melemparkannya ke bawah meja.

Masya Allah! (sambil ngelus dada, tapi cuma dalam hati karena takut menyinggung, walaupun akhirnya berpikir ngapain juga takut nyinggung perasaan orang model begitu) Kok bisa ya? Setengah ga percaya, tapi mau gimana lagi. Becoming stupid eyewhitness, ngeliat dengan my own very eyes, mau ga mau memang mesti percaya. Jadi plesbek (flash back maksudnya, ah gitu aja ga mudeng) waktu saia caught in the act menyimpan bungkus permen di dalam saku kemeja saia, malah dipuji (dengan sarkasme) teman. Katanya saya harus dapat penghargaan dari pemda, padahal cuma berniat mengamalkan “aththuhuuru syatrul iiman”, malu dong ngaku beriman tapi bikin kotor.

No wonder ya, kalangan birokrat dan anggota dewan yang studi banding ke luar negeri seringkali (atau selalu?) dapat komentar miring dari rakyatnya. Probably, karena orang indo (seperti sang co-man tadi, mostly?, tapi pasti ga semua kan?) lebih pandai mengagumi, mengkaji, observasi, melakukan studi analitis, membuat list panjang tentang lesson-learned (atau apa lah) tapi membuat kealpaan pada langkah aplikasi (deu, basanya).

Tuh kan, ngelantur lagi, ngomongin orang lagi. Ghibah tau, seperti makan bangkai saudara sendiri, manusia kanibal! Sutra lah hay, enough with basa-basi. Back to the question? Mau posting apaan neh? (loading…tut…tut…tut) Halah, malah jadi ilid (ilang ide maksudnya, biar kaya ilpil geto). Ya sutra lah hay, kapan-kapan lagi aja deh postingnya kalau cakrawala ide sudah terbuka (puihh, basanya). Namanya juga opening, preambule, pembukaan, segeto aja cukup kali ya (Dasar orang indo!!!! Banyak alasan!!! Lontong!!!!). Si yu, epriwan.